Saya terus terang setuju dengan beberapa tuntutan mereka dan beberapa dari fasilitas yang mereka minta itu adalah fasilitas dikantor saya sendiri. Tetapi jangan sampai terjebak memberikan tunjangan-tunjangan tersebut dalam bentuk uang, karena saya hampir sepenuhnya yakin duit-duit itu bakal dipalak lagi oleh orang-orang yang merasa berjasa menaikkan gaji mereka. Dan akhirnya ya kismin lagi.
Alasan berikutnya adalah, kalau mereka gaji sedikit aja ga bisa nabung maka dinaikan gaji bukan tidak mungkin malah membuat mereka semakin miskin.
Jadi usul saya adalah beberapa fasilitas yang terdengar konyol: TV Led, Parfum dan Nonton bioskop tidak diberikan dalam bentuk uang.
TV Led sebaiknya tidak diberikan, karena televisi di Indonesia saat ini adalah jendela pembodohan.
Nonton bioskop saran saya diberikan dalam bentuk nonton layar tancep bersama atau penyelenggaraan festival seni/pertunjukkan untuk kalangan pabrik. Atau kalo emang ada duit rada banyak bisa menyewa satu teater sendiri dan nego supaya bisa diskon. Ini bagus juga supaya mereka ga ketinggalan pop culture. Syaratnya tiket tidak bisa dialihkan dan tidak bisa dijual, yang ketahuan menjual atau dialihkan akan di SP.
Parfum, ini bagus nih supaya ga bau ketek namun baiknya disediakan secara kolektif supaya hemat dan yang butuh-butuh saja yang pakai.
Dan berikutnya adalah ada baiknya mereka semua yang punya anak diberikan fasilitas sekolah gratis.
Tapi maksimal sampai anak ketiga aja atau kedua tergantung dana yang dimiliki perusahaan, supaya mereka punya anak juga jangan banyak-banyak.
Lalu daripada cuti haid sampai lima hari, bukankah lebih baik minta diberi cuti hamil setahun untuk perempuan yang melahirkan dan sudah bekerja minimal beberapa tahun. Untuk yang belum sampai minimal mungkin cukup cuti hamil maksimal beberapa bulan. Lalu bapak nya boleh cuti dua bulan demi jaga anak.
Kalau maksa ada cuti haid sampai sepanjang itu, maka dia dibayarnya ya harian aja.
sekian.
No comments:
Post a Comment