Friday, August 8, 2014
cengkrama
Dipersimpangan itu aku bercengkrama dengan iblis.
Mengenai masa lalu, masa kini dan masa yang tidak akan pernah datang.
Ia menawarkan keabadian, aku menolaknya demi keabadian yang aku percaya.
Ia bercerita tentang dirinya, aku mendengarkan dengan baik.
Namun aku tidak mengingat apa yang ia ceritakan, aku hanya mengingat rupanya yang rupawan.
Namun senyumnya menyeringai dan ucapannya penuh siasat.
Masa lalu nya tidak berawal sementara masa datangnya tidak akan kunjung datang dan masa kini nya tak pernah ada.
Aku kemudian terduduk dan terpekat oleh mimpi mengenai keabadian yang tak mampu dicerna oleh pikiran ku.
Beruntung aku memiliki saat ini, dan masih ada masa sebelum harus mencerna keabadian dengan jiwaku.
Aku kemudian berdiri dan meninggalkan persimpangan tersebut.
Entah ia mengikuti atau tidak, tapi aku merasakan tatapannya.
Aku berhasil menolaknya kali ini, semoga begitu juga dikemudian waktu.
Subscribe to:
Comments (Atom)